="navcontainer">

Senin, 02 Mei 2016

ISLAM DAN JAWA “Kolaborasi Agama dan Budaya”

ISLAM DAN JAWA
“Kolaborasi Agama dan Budaya”
Oleh: Tatimmatul Ianah

Menyelami sejarah Jawa memang tak akan pernah ada habisnya. Karakteristik budaya Jawa yang unik dan banyak mengandung nilai mistik berpadu dengan nilai-nilai Islam yang di sebarkan oleh para Wali pembawa risalah Nabi. Lumayan sulit memang untuk mengkaji dan menyelami budaya-budaya Jawa karena sulitnya akses sumber belajar.

Namun, sekarang sudah banyak sekali sarana yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka memperkenalkan dan melestarikan budaya Jawa terutama bagi kalangan pelajar. Salah satunya yakni dengan disediakannya museum sebagai sarana rekreasi sekaligus sarana edukatif. Seperti museum yang ada di Semarang yakni Museum Ronggowarsito.

Museum Ranggawarsita terletak di Jalan Abdurrahman Saleh No. 1 Kalibanteng Kulon Semarang. Letak museum ini termasuk strategis dan sangat mudah dijangkau bagi warga Semarang yang tinggal di dekat kawasan Kali Banteng. Tarif tiket masuk ke museum ini juga sangat  murah, yakni Rp 4.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak. Dengan tarif yang murah ini, kita sudah bisa menikmati beragam jenis koleksi yang terdapat didalam museum.

Pembangunan museum ini pertama kali dirintis oleh proyek Rehabilitasi dan Permuseuman Jawa Tengah pada tahun 1975 dan diresmikan oleh Prof. Dr. Fuad Hasan pada tanggal 5 Juli 1989. Arsitekturnya adalah Ir. Totok Rusmanto dari UNDIP, sedang pengawas pelaksanaan pembangunannya dilakukan oleh PT Guna Dharma Semarang.

Nama Ranggawarsita ini sendiri diambil dari nama seorang pujangga yang fenomenal di Keraton Surakarta. Beliau dilahirkan pada tahun 1802 dengan nama Bagus Burhan. Pada usia 12 tahun, ia dikirim orang mengaji pada Kyai Imam Basori di pondok Gerbang Tinantar yang di antar oleh pamongnya Ki Tanujaya. Tapi Bagus Burhan malah mengahabiskan waktunya dengan hal yang siasia (beliau suak berjudi) sehingga Bagus Burhan di pindahkan ke Madiun. Akhirnya Bagus Burhan memperistri putri Bupati Madiun yang bernama R.A.Gombak. setelah berpetualang sekian lama, Bagus Burhan akhirnya insaf dan kembali ke pondok untuk belajar lagi. Karena kepandaiannya bagus burhan di angkat menjadi wakil Kyai Imam Basori.

Pada tahun 1819 Sri Sunan (raja Surakata) mengangkat Bagus Burhan menjadi Abdi dalem dengan gelar Ronggo Pujonggo Anom. Setelah itu pangkatnya dinaikan menjadi Mas Ngabei Sorotoko (1822) dan 3 tahun kemudian menjadi Raden Mas Ngabei Ronggowarsito. Ronggowarsito meninggalkan banyak buku-buku yang sangat berguna bagi Indonesia. Karya Ranggawarsita mengandung nasihat-nasihat  dan petunjuk bagi bangsa Indonesia seperti “membangun dan mendidik menuju kepada kemuliaan, kesejahteraan, kejayaan, dan kebahagiaan bangsa Indonesia seluruhnya. Diantara karyanya adalah Pustakaraja, Ajipamasa, Jokolodang, Jayabaya. Untuk mengenang jasanya, maka Ronggowarsito dijadikan nama sebuah museum di Jawa Tengah.

Koleksi-koleksi yang terdapat di museum Ranggawarsita berjumlah 59.802 buah yang terbagi dalam 10 jenis klasifikasi, yakni geologika (benda-benda bumi seperti bebatuan), arkeologika (koleksi benda peninggalan zaman purba), historika (koleksi benda-benda yang berhubungan dengan sejarah bangsa Indonesia), filologika (koleksi benda-benda kebudayaan), numismatika (koleksi mata uang), heraldika (koleksi benda-benda asal-usul kerajaan, lambang negara), senirupa, keramologika (koleksi keramik-keramik), dan teknologika.

Dari berbagai koleksi diatas, yang paling menarik perhatian saya adalah benda-benda kebudayaan orang Jawa yang erat kaitannya dengan Islam. Banyak orang yang belum paham bahwa ada banyak sekali benda-benda peninggalan orang Jawa yang berkolaborasi dengan nilai-nilai Islam. Diantaranya yakni keris, wayang kulit, gending, dan lain-lain.

Akulturasi nilai Islam dan budaya Jawa menambah warna-warni khazanah keislaman yang ada di tanah Jawa. Hal ini tentu saja tidak lepas dari peran para walisanga yang dengan sabar dan gigih menyebarkan nilai-nilai Islam kepada masyarkat Jawa yang dikenal sangat kental budayanya dan juga sangat taat beribadah. Meskipun saat itu masyarakat Jawa masih menganut agama hindu budha ataupun agama nenek moyang yang telah dianut oleh para nenek moyang sejak zaman dahulu kala.

Demikian hadirnya Islam di Jawa juga membawa corak perubahan dalam budaya Jawa. Contohnya adalah wayang dan gending atau gamelan. Sebelum Islam masuk di Jawa, wayang digunakan sebagai alat untuk menceritakan cerita-cerita Hindu dan Budha yang biasanya diiringi dengan musik-musik gamelan. Namun, setelah Islam hadir, cerita-cerita wayang disisipi dengan nilai-nilai Islam, musik gamelan juga disisipi dengan lagu-lagu berbahasa jawa yang mengandung nilai Islam. Lagu ini di ciptakan oleh para wali untuk menarik perhatian masyarakat Jawa supaya mau masuk Islam. Cara seperti ini dilakukan oleh beberapa wali diantaranya yang paling terkenal yakni Sunan Kali Jaga.


Kolaborasi agama dan budaya yang terjadi di Jawa membuktikan bahwa agama dan budaya tidak dapat terpisahkan satu dengan lainnya. Sebab budaya dapat menambah kekhazanahan agama yang dianutnya, dan agama mengisi estetika budaya dengan nilai-nilai religi yang mengenalkan seseorang pada Tuhannya.

Identitas penulis : Penulis bernama Tatimmatul Ianah (133411003). Ia merupakan seorang mahasiswi semester 6, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Pendidikan, UIN Walisongo Semarang. Artikel ini ditulis untuk memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester pada mata kuliah Islam dan Budaya Jawa (IBJ) yang diampu oleh Bpk. Rikza Chamami, MSI. Lokasi penelitian berada si Museum Ranggawarsita Semarang.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar